![]() |
| Foto : livemint.com |
Tahun 1980, ada program televisi Amerika "Jika Jepang Bisa, Kenapa Kita Tidak? (If Japan Can... Why Can't We?)" yang disiarkan oleh NBC News White Paper. Meskipun tayangan ini susah kita cari di internet saat ini, tapi ini adalah program televisi yang cukup terkenal dan banyak dibahas hingga sekarang. Program itu menayangkan bahwa industri Jepang sudah sangat mendunia, sementara industri Amerika berusaha untuk mengimbangi. Jepang dapat menadi raksasa hanya dengan mengubah prinsip-prinsip yang paling mendasar. Sangking mendasarnya, sampai sering disepelekan oleh banyak orang. Ketika video dokumenter ini dibuat, Dw Edward Deming, tokoh yang berhasil membawa Jepang menuju kejayaan berkomentar "They want to copy the Japanese, but they don’t know what to copy". Smua orang ingin mencontoh Jepang, tapi tidak tahu apa yang harus dicontoh. Mungkin karena Jepang melakukannya mulai dari hal-hal yang sangat kecil, yang sering dilupakan manusia.
Pendidikan Karakter
Mungkin itulah salah satu faktor dicetuskannya pendidikan karakter. Kalau di lihat-lihat di berbagai panduan pendidikan karakter, pendidikan karakter bukan pendidikan moral yang mempelajari sopang santun, bukan juga pendidikan karakter cara berbicara, atau malah table manner. Pendidikan karakter yang dimaksudkan pemerintah adalah pendidikan karakter yang membangun bangsa. Pemerintah pengen kita punya karakter dasar seperti orang-orang Jepang punya prinsip dasar yang membuat negaranya maju. Sayangnya kita masih gak tau gimana caranya karakter dasar itu benar-benar dipraktekkan di kehidupan nyata yang kebanyakan cuman urusan-urusan sepele.
Menurut penulis Ryan Sugiarto, ada 55 kebiaaan kecil yang menghancurkan bangsa (seusai dengan judul bukunya "55 Hal Kecil yang Dapat Menghancurkan Bangsa)
![]() |
Misalnya tidak disiplin, suka menunda pekerjaan, atau bangun kesiangan. Sulitnya, kebanyakan kita gak bisa menghubungkan antara kebiasaan kecil tadi dengan kehancuran bangsa, makannya kebiasaan tadi masih sering diremehkan. Selain itu, kita sudah cukup sering mendengar penilaian negatif tentang bangsa sendiri. Sperti molor/ngaret/gak tepat waktu. Kata-kata negatif tadi semakin sering didengar, justru semakin kita menerima, dan akhirnya memaklumi, atau malah dijadikan identitas bangsa Indonesia : bukan Indonesia kalau gak pernah ngaret. Jadi, coba hal-hal kecil yang menghancurkan kita ubah redaksionalnya menjadi kalimat positif supaya kita ingat apa yang harus dilakukan, bukan malah ingat apa yang harus dihindari dan ujung-ujungnya mengampuni diri sendiri.
55 Hal Kecil yang MEMBANGUN Bangsa
Membangun diri sendiri
1. Menghargai waktu.2. Bangun Pagi setiap hari.
3. Masuk kantor/ kuliah tepat waktu.
4. Disiplin.
5. Menyelesaikan pekerjaan secepatnya.
6. Menepati janji.
7. Mengandalkan diri sendiri setiap ujian, Pede sama kemampuan sendiri.
8. Gak pernah ngrasani orang.
9. Mengandalkan diri sendiri dengan tidak membiasakan diri untuk meminta.
10. Selalu bahagia, anti galau & stress.
11. Setiap masalah selalu dibawa enteng.
12. Optimis terhadap diri sendiri.
13. Mengerjakan pekerjaan dengan riang, iklas, dan senang hati, tanpa mengeluh.
14. Sadar kalau di atas langit masih ada langit, jadi tidak merasa yang paling hebat.
15. menyadari bagaimanapun kelemahan yang dimiliki orang lain pasti ada sisi kelebihannya yang tidak boleh diremehkan.
16. Selalu Sarapan.
17. Membudayakan antri.
18. Sedikit tidur / tidur secukupnya.
19. Gak kebanyakan nonton TV.
20. Selalu ingin berubah.
Hal Kecil yang Membangun lingkungan
21. Tidak merokok di sembarang tempat.
22. Membuang sampah di tempat sampah.
23. gak pernah ngotori jalan, termasuk corat-coret.
24. pake kendaraan yang knalpotnya nggak ngebul.
25. Jalanan bersih dari iklan.
26. konsumsi plastik secukupnya, semakin sedikit semakin baik.
27. Selalu baca aturan pakai untuk barang apapun.
28. Meminimalisir penebangan pohon.
29. Selalu mendaur ulang. Paling enggak jual barang bekas.
Hal Kecil yang Membangun Ekonomi
30. Sederhana, tidak konsumtif.
31. Apa adanya, gak suka pamer.
32. Gak ngrasa silau apa lagi iri dengan kepemilikan orang lain.
33. Hemat listrik.
34. Menghindari ngegame, apa lagi sampe kecanduan.
35. Menyusun rencana-rencana kehidupan.
36. Berpikir kreatif.
37. belanja dengan "sehat", bukan pengidap shopaholic.
38. Selalu mengangkap peluang sebaik-baiknya.
Sosial
39. Suka membaca.
40. Selalu mendengar pendapat orang lain.
41. Anti Nepotisme.
42. Gak suka lewat "pintu belakang", alias suap.
43. Aktif di dunia politik untuk kepentingan rakyat, bukan untuk cari duit apa lagi balik modal.
44. Luwes dalam segala perbedaan.
45. Beragama secara luas dan terbuka (open minded).
46. Ingat sejarah dan belajar sejarah.
47. Gak pernah demo soal upah atau gaji.
48. Menjunjung tinggi kedamaian, gak pernah berantem apa lagi tawuran.
49. Belajar dari pengalaman.
50. (Ryan Sugiarto menyebutkan "Birokratif". Kata positifnya apa ya?)
51. Kreatif, orisinil, bukan peniru.
52. Tidak mudah diprovokasi, dan tidak suka memprovokasi.
53. Berani berkata tidak.
54. optimis itu cukup, ambisi itu berlebihan. Apalagi ambisi untuk menguasai.
55. Menjunjung tinggi tradisi adat.
Trus apa hubungannya hal-hal kecil itu buat kejayaan bangsa? Contohnya kalo orang bangun kesiangan, pati mereka bilang "ini urusanku sendiri. Kuliahku emang masuk siang, gak salah kan". Atau ada orang yang emang gak biasa sarapan, "Pagi-pagi aku belom lapar, kenapa harus sarapan? yang penting kan tetep bisa beraktivitas".
;Nah ternyata sulitnya bukan cuman melakukannya, tapi juga juga menghubungkan hal-hal kecil tadi dengan kejayaan yang besar. Membuat orang percaya bahwa hal-hal sepele ini bisa membawa perubahan yang luar biasa itu yang paling sulit. Atau kita malah merasa bodoh melakukan 55 hal di atas, tanpa tau, ini sebenernya buat apa sih...
-Esde-


0 komentar:
Posting Komentar