Kamis, 12 Desember 2013

Aku, Pamitan


Ada firasat yang sesat pada secuil penat yang tersirat. 
Ada luka yang menganga pada segelintir tawa bahagia. 
Ada abu-abu pada kalbu yang menyimpan sendu, yang tak satu orangpun aku beritahu. Ada waktu yang semakin menyusut. Susut, dan terus menyusut.
Tentang apa cerita ini akan ku bawa? Kisah nyata, atau sekadar fiksi belaka? Aku. Namaku Laila. Kalian. Nama kalian adalah teman. Dan ini, ini adalah bangunan. Tempat dimana aku dan kalian menjadi teman. 

Katamu, kita masih bisa bertemu, beradu ilmu pada tiap detikan waktu. Katamu, kita akan tetap saling menemani, menemani dalam sepi yang menari dikesunyian hati. Katamu, kita akan punya akhir cerita yang sama, di mana saat gelar sarjana melekat pekat pada harkat diri yang menguat. Tapi itu katamu. Kata kalian.

Haruskah ada kejujuran yang aku ungkap agar kalian mengerti? Haruskan ada deru rintih tangis air mata yang aku teriakan agar kalian memahami? Dan haruskah ada bukti hitam di atas putih dari manusia berjas putih yang harus aku tunjukan kepada kalian agar kalian berempati? Aku rasa tidak. Iya, aku rasa untuk saat ini semua itu tidak perlu.

Masih melekat erat cerita tentang agustus 2012. Masih terikat kuat cerita tentang 18 bulan yang mengayun pelan pada pikiran yang kian tertelan. Hingga saat tulisan ini aku buat, masih ada sekelebat siasat yang beradu dengan firasat yang menurutku itu sesat. Siasat? Iya, siasat agar tawa tetap membahana. Siasat agar canda tetap berirama. Siasat agar tangis tak pernah terlukis. Siasat agar semua tampak biasa-biasa saja. Iya, aku ingin semua biasa saja. Aku hanya ingin semua terkesan baik-baik saja.

Entah siapa aku di pikiran kalian. Entah bagaimana aku di benak kalian. Dan entah tentang apa aku di hati kalian.
Selama detik masih aku punya, selama menit masih aku dapat, salama hari, bulan, dan tahun masih bisa aku lewati, selama itu pula aku hanya ingin menebar bahagia untuk kalian.

Aku hanya ingin, saat gugusan bintang yang selama ini kalian lihat genap berjumlah lima suatu saat berkurang satu, dan menyisakan empat itu adalah yang terhebat dan tetap menjadi sahabat. Aku hanya ingin, saat manusia dengan hidung pesek, suara jelek, dan tubuh pendek itu tak terlihat lagi di antara kalian, kenangan dan segala angan semoga akan tetap berkeliaran pada diri dan hati kalian. Dan aku hanya ingin, saat yang ternyata tepat aku mendarat dalam liang lahat yang penuh tanah liat, aku hanya ingin kalian ingat tentang baris tulisan yang hari ini aku bacakan, bahwa aku pamitan

-winan-

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Formulir Kontak