Ada
firasat yang sesat pada secuil penat yang tersirat.
Ada luka yang menganga pada segelintir tawa bahagia.
Ada abu-abu pada kalbu yang menyimpan sendu, yang tak satu orangpun aku beritahu. Ada waktu yang semakin menyusut. Susut, dan terus menyusut.
Ada luka yang menganga pada segelintir tawa bahagia.
Ada abu-abu pada kalbu yang menyimpan sendu, yang tak satu orangpun aku beritahu. Ada waktu yang semakin menyusut. Susut, dan terus menyusut.
Tentang
apa cerita ini akan ku bawa? Kisah nyata, atau sekadar fiksi belaka? Aku.
Namaku Laila. Kalian. Nama kalian adalah teman. Dan ini, ini adalah bangunan.
Tempat dimana aku dan kalian menjadi teman.
Katamu,
kita masih bisa bertemu, beradu ilmu pada tiap detikan waktu. Katamu, kita akan
tetap saling menemani, menemani dalam sepi yang menari dikesunyian hati.
Katamu, kita akan punya akhir cerita yang sama, di mana saat gelar sarjana
melekat pekat pada harkat diri yang menguat. Tapi itu katamu. Kata kalian.
Haruskah
ada kejujuran yang aku ungkap agar kalian mengerti? Haruskan ada deru rintih
tangis air mata yang aku teriakan agar kalian memahami? Dan haruskah ada bukti
hitam di atas putih dari manusia berjas putih yang harus aku tunjukan kepada
kalian agar kalian berempati? Aku rasa tidak. Iya, aku rasa untuk saat ini
semua itu tidak perlu.
Masih
melekat erat cerita tentang agustus 2012. Masih terikat kuat cerita tentang 18
bulan yang mengayun pelan pada pikiran yang kian tertelan. Hingga saat tulisan
ini aku buat, masih ada sekelebat siasat yang beradu dengan firasat yang
menurutku itu sesat. Siasat? Iya, siasat agar tawa tetap membahana. Siasat agar
canda tetap berirama. Siasat agar tangis tak pernah terlukis. Siasat agar semua
tampak biasa-biasa saja. Iya, aku ingin semua biasa saja. Aku hanya ingin semua
terkesan baik-baik saja.
Entah
siapa aku di pikiran kalian. Entah bagaimana aku di benak kalian. Dan entah
tentang apa aku di hati kalian.
Selama
detik masih aku punya, selama menit masih aku dapat, salama hari, bulan, dan
tahun masih bisa aku lewati, selama itu pula aku hanya ingin menebar bahagia
untuk kalian.
Aku
hanya ingin, saat gugusan bintang yang selama ini kalian lihat genap berjumlah
lima suatu saat berkurang satu, dan menyisakan empat itu adalah yang terhebat
dan tetap menjadi sahabat. Aku hanya ingin, saat manusia dengan hidung pesek,
suara jelek, dan tubuh pendek itu tak terlihat lagi di antara kalian, kenangan
dan segala angan semoga akan tetap berkeliaran pada diri dan hati kalian. Dan
aku hanya ingin, saat yang ternyata tepat aku mendarat dalam liang lahat yang
penuh tanah liat, aku hanya ingin kalian ingat tentang baris tulisan yang hari
ini aku bacakan, bahwa aku pamitan.
-winan-
0 komentar:
Posting Komentar