Jumat, 27 Juni 2014

Barangkali Kita Terobsesi Jadi "Juragan"


Baru-baru ini ada tempat makan yang baru dibuka di dekat kampus. Boleh dibilang tempat ini mengusung konsep yang beda. Bukan hanya karena arsitekturnya yang unik, tapi atmosfernya memang benar-benar beda. Untuk urusan mahasiswa apalagi anak kos, tempat makan itu sekadar tempat buat ngisi perut. Jadi tempatnya ya dibikin ala kadarnya asal pengunjungnya bisa makan enak dan makan kenyang. Semua beda konsep dengan tempat baru ini. Ini tempat makan yang bukan soal urusan perut, tapi juga soal sosial karna ini juga tempat nongkrong dan kongkow-kongkow.

Orang mungkin tertarik dengan arsitekturnya yang unik, atau desain ruangannya yang asik, atau bahkan kursi-kursinya yang lucu, atau makanannya yang meskipun harganya hampir menyentuh langit, tapi bisa manjain lidah. Yang aku amati setiap ke sini bareng temen-temen, mereka selalu melakukan hal yang sama setiap pesan makanan. Kami diberi buku notes untuk menuliskan pesanan. Lalu setelah itu, mereka mengacungkan tangan, tanda meminta pelayan untuk datang dan meladeni mereka. Kalau pelayan gak juga datang, acungan tangannya semakin digoncang-goncangkan di udara seolah tangan itu berteriak "Hoeey! pelayan,, sini buruan ladenin aku, aku mau makan". 

Well kenapa dengan orang-orang ini? apa susahnya jalan kaki sebentar untuk mengantarkan pesanan ke para pelayan? Oh mungkin gengsi karena ya, kita kan pelanggan yang harus dilayani? masak iya kita jalan ke sana untuk melayani diri sendiri? terkesan pelanggan yang nggak berkelas?. Satu jawaban keluar. "Mereka di bayar kok". Oh ya mereka dibayar untuk melayani, dan ngomong-ngomong memang dalam bahasa kita mereka adalah pelayan. "Pelayan Kafe". Oh iya, jadi premisnya uang yang kita bayarin ke kafe ini tuh bukan cuman buat makan, tapi juga buat bayar supaya dilayani. Oke fix, jadi salah satu daya tarik tambahan dari kafe ini adalah orang yang datang musti dilayani, diladeni, dan mereka tinggal duduk diam di mejanya. 

Ada Apa dengan Para Mahasiswa Ini?
Pernah suatu hari aku datang berdua dengan seorang teman, kami memesan makanan lalu temanku ini *seperti pelanggan biasanya, mengacungkan tangannya minta pelayan datang. Sayang, pelayan gak datang-datang. Aku sampai gemes, bukan gemes ke palayannya, tapi gemes ke temenku. Apa capek sih jalan bentar trus ngasih notes tadi ke pelayan? Mungkin sekitar tiga menit aku jadi teman nyebelin. Aku duduk di depan temanku, melipat tangan, sambil mengamati perilaku temanku yang berkali-kali mengacungkan tangan tapi pelayannya gak datang-datang. Pengen ketawa juga, acungan tangannya ndak mandi (boso jowo, red). Dia bener-bener pengen diladeni. padahal kalau jalan sebentar aja kita pesanan kita pasti datang lebih cepet. 

jadi ada apa dengan kalian teman-temanku? Kenapa pengen banget diladeni? aku cuman mikir makanan yang kita pesen gak mahal-mahal amat. Kalo toh mahal toh itu sebanding dengan bahan baku makanan kita. Jadi setiap uang yang kita bayar berapa persen yang masuk ke kantong pelayan? artinya memangnya kita bayar berapa untuk para pelayan ini? toh kita para mahasiswa nggak pernah ngasih uang tip.

Mungkin para mahasiswa ini sedang jenuh harus mandiri terus-terusan. Sekali-kali mereka butuh nyuruh-nyuruh orang. Biasanya mereka makan di Pok We, ambil makan sendiri trus langsung bayar. Sama dengan di hik, mau gorengan tinggal ambil sendiri. Di kos mereka musti nyuci pakaian, beresin kamar, ngerjain tugas, semunya sendiri, gak ada pembantu. Ya ya ya, bisa dimengerti gimana jenuhnya jadi orang mandiri tapi gak bisa nyuruh-nyuruh orang. Padahal di kampung, atau di desa, status mahasiswa adalah status yang prestise. Yah semi-semi terhormat dikit gitu lah... dianggapnya keren. Tapi faktanya di kampus mereka tetap aja disuruh-suruh. Entah itu disuruh dosen, entah harus taat sama aturan apapun itu, atau dimarahi petugas parkir yang lagi sewot. Mungkin kafe dengan pelayan yang mau ngeladeni ini pelarian mereka. . Mahasiswa kan keren, masak di suruh-suruh, ya udah ke kafe aja biar bisa nyuruh-nyuruh orang. Ngomong-ngomong, berapa orang sih yang punya cita-cita jadi "bos" di mana depan? Ada yang pengen jadi kepala sekolah, direktur, atau kepala-kepala itu. Mungkin mereka gak sabar menanti masa depannya akan menjadi bos. Selagi nunggu waktu, ke kafe aja belajar nyuruh-nyuruh orang, belajar jadi bos. Seolah-olah pengunjung kafe datang dengan suara kepala "gue udah capek. plis ladenin gue".

Kesimpulannya (sorry nih agak kejam dikit), orang yang pengen diladeni ini sebenarnya orang yang dalam hidupnya sedang tertindas. Entah tertindas orang lain, tertindas aturan, atau apapun itu karena seolah-olah ereka dipaksa untuk melayani para penindas-penindas yang entah apa itu tadi. ckckck....

Humanity
kembali sih, kadang kita egois dengan pikiran kita. Bagiku humanity, KEMANUSIAAN adalah harga mutla yang harus ada di setiap lini kehidupan. Entah aku bisa mempraktekkan humanity sejati atau tidak. Yah mungkin ini agak klise. 
Aku selalu kagum sama setiap pembeli yang bisa ngakrab ke penjual, entah itu di burjo atau di hik. Mereka bisa saling ngobrol ngomongin masalah satu sama lain tanpa ada jarak. Kalau memang mahasiswa itu harus peka sosial, dari sinilah kepekaan sosial itu dibangun. Lewat interaksi dengan sesama manusia. Dari sini kita belajar memanusiakan manusia. Yang namanya memanusiakan manusia itu ya memanusiakan semua manusia, gak peduli dia penjual burjo yang asik, atau pemilik hik yang suka bercanda, atau pelayan kafe yang kaku dan harus hafal "naskah" (Selamat siang kak, mau pesan apa? menu special kita hari ini nasi goreng capcay ala cina. sudah nyaman dengan tempat duduknya? bla bla bla bla....)

Dimana hubungan sosial?

-Esd-

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Formulir Kontak